Surga Tersembunyi di Kerinci

Matahari bagai sedang bersembunyi, cahayanya ada, tapi malu-malu menyapa. Aku terbangun dari lelap atas perjalanan panjang yang berliku. Rupanya jam sudah menunjukkan pukul 6.20 WIB.

Kubaca tulisan berukuran besar tepat di sekitar mobil kakakku menepi 'Kabupaten Kerinci'. Kabupaten Kerinci adalah sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Jambi.

Aku dan alam Kerinci


Perjalanan malam yang cukup memacu adrenalin terbayar dengan lembutnya embun pagi di Kerinci. Semangkuk mi yang kami nikmati di warung pinggir jalan, mengisi kembali tenaga yang sempat terkuras setelah delapan jam berkendara dari Kota Jambi. Perjalanan masih panjang, karena tujuan utama kami Desa Tapan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Hangatnya matahari pagi belum terasa, tertutup hutan dan pohon rindang di kiri kanan jalan. Sesekali jurang curam menyapa, namun memanjakan mata dengan hijaunya yang tentram.

Alam Kerinci masih terlihat liar, berserakan. Tak seperti pemandangan yang tertata rapi layaknya puncak Bogor. Namun, di sanalah keindahan Kerinci, belum terjamah oleh tangan-tangan nakal manusia

Perjalanan menuju Kerinci penuh jalan berkelok.

Dua jam kemudian, sekitar pukul 8.22 WIB tibalah kami di Danau Kerinci. Sebuah objek wisata asli persembahan alam. Kami singgah sejenak.

Mataku takjub, air bagai permadani biru yang terhampar menghubungkan pulau seberang. Awan-awan kapas bertengger di puncak gunung. Surya sama sekali tak menusuk kulit, yang ada hanya desah angin membelai syahdu.




Menurutku, dinginnya Kerinci sama halnya Lembang di Jawa Barat. Airnya juga segar, jernih, membuat orang mengantuk terjaga jika dijilatinya.

Perjalanan pun dilanjutkan. Sawah hijau, gunung tinggi, dan jalanan yang tampak tak berujung menjadi keindahan yang tak henti menyambut kami. Meski sesekali mobil mesti hati-hati karena dihadapkan pada lubang menganga di badan jalan.


Tibalah kami di Desa Koto Patah, sebuah desa di Kabupaten Kerinci. Tak ada yang spesial di sini, tak ada gedung tinggi. Jalanannya pun tak luas, hanya cukup untuk dua mobil saja. Tapi, karena tak ramai, ia terlihat damai. Tanpa bising, tak bikin pusing.

Tulisan ini hanya sepercik dari setelaga cerita dari Kerinci. Tak banyak yang kutahu, yang tertulis ini hanya secuplik dari yang terekam oleh inderaku. Semoga suatu hari, aku bisa balik lagi untuk menyibaknya lebih dalam.

Selamat datang di Kerinci. Selamat datang di surga yang tersembunyi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Traveling ke Malang Sendirian? Siapa Takut!

Tips Hemat ke Baduy, 2 Hari 1 Malam Cuma Dua Ratus Ribuan

Liburan Sehari di Pulau Pari, Bisa Ngapain Aja?

Batu; Destinasi yang Wajib Kamu Jelajahi Saat Berada di Malang!

Begini Rasanya Sehari Melancong ke 3 Pulau; Kelor, Onrust, Cipir

Review Drama Korea Prison Playbook, Mereka yang Memanusiakan Manusia

Review Drama Korea Itaewon Class, Mereka yang Tak Kenal Menyerah

Indahnya Alam Pangalengan; Wisata Situ Cileunca dan Curug Panganten

Sekilas Tentang Belitung Bagi yang Ingin Berkunjung

Review Drama Korea Melting Me Softly, Jatuh Cinta Bagai Menunggu Es Mencair